Badri HS, M.Pd
(Kepala SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah". (QS Shaad 38 : 37)
Perintah pertama Tuhan kepada Nabi Muhammad SAW, "Iqra’“ adalah perintah untuk melaksanakan pendidikan. Karena, pendidikan adalah pintu bagi peradaban, dan peradaban adalah penentu kualitas kebudayaan sebuah bangsa serta penentu kualitas umat manusia.
Dalam konteks surat Al-’Alaq, kata Iqra’ tersebut terdiri dari kata aliif, Qaf, dan Ra’. Aliif bimakna aqlu (fikiran) Qaf bimakna Qalbu (perasaan) dan Ra’ bimakna ruh (jiwa) ketiga komponen tersebut ada pada diri manusia yaitu fikiran, perasaan dan jiwa ketiganya harus melekat agar berjalan seimbang, selaras dan bersinergi.
Iqra menurut konteks pengertian ayat ayat Allah adalah Allif = alam, Qaaf = Quran, Raa= ra’a (membaca dengan mata, jadi kata iqra diartikan al Qalam maksudnya tanda tanda yang dianugerahkan Allah untuk difahami secara visual oleh manusia. Penjelasan tentang Iqra ternyata penuh makna yang harus kita fahami dalam aplikasi kehidupan sehari hari, karena tersimpan sebuah kekuatan dahsyat yang keberadaannya mampu mengubah karakter, visi serta tujuan hidup manusia.
Kata “Iqra’” yang berarti ”bacalah”, bisa berarti observasi, yaitu membaca data yang terdapat dalam teknologi modern (IT) bisa juga bimakna meneliti yang bisa menghasilkan berbagai disiplin ilmu, baik agama, politik dan sosial. Kemudian dalam ayat ketiga juga berarti perintah untuk membaca yang dihubungkan dengan menyebut nama Tuhan ini berarti memiliki nilai visi teologi /ketuhanan, spiritual dan transendental dalam pendidikan dan yang berkaitan dengan kegiatan pendidikan seperti penelitian dan pengembangan ilmu pengtahuan harus tetap dalam bingkai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
Perintah membaca yang dihubungkan dengan atas nama Allah mengandung isyarat tentang pentingnya idiologi yang bernafaskan islam yang bersifat humanisme teosentris yaitu idiologi yang mengandung keseimbangan antara usaha dengan kekuasaan kehendak Allah.
Kata “al Qalam “ secara harfiah bimakna “ pena “ itu mengisyaratkan bahwa tentang pentingnya bagi setiap orang yang mengelola pendidikan harus memiliki sarana dan prasarana dan media pendidikan dalam arti ang sangat luas. Karena sarana dan prasarana serta media akan dapat merekam, menyimpan, menggambarkan dan mendokumentasikan seluruh aktifitas pendidikan sehingga ilmu pengetahuan dapat direkam, disimpan dan dapat diwariskan bagi generasi seterusnya sekaligus sebagai sejarah yang berkesinambungan.
Selanjutnya kata “Allama“ yang artinya mengajarkan sebagaimana tersebut dalam al Qur’an surat al Alaq ayat 5 tersebut memberikan isyarat bahwa adanya sebuah proses pembelajaran yang memungkinkan terjadinya tranpormasi ilmu pengetahuan dari suatu generasi kegenarasi lainnya.
Proses pembelajaran ini bisa dilakukan oleh Guru/ Ustadz/ Kyai/ Tuan Guru terhadap muridnya melalui berbagai pendekatan yaitu pendekatan yang berpusat pada Guru (Teacher centris), pendekatan yang berpusat pada murid (student centris) dan pendekatan yang memadukan antara keduanya yaitu teacher centris dan student centris.
Teacher centris yaitu proses belajar mengajar yang dilakukan dengan sistem ceramah, pemberian contoh teladan, melalui cerita/ qishah. Sedangkan student centris yaitu proses belajar mengajar yang dilakukan dengan cara siswa belajar aktif (CBSA), Problem Bassed Lerning (PBL), Contextual Teacher Learning (CTL) inquiri, dan sebagainya.
Pendekata belajar selain diatas ada beberapa pendekatan diantaranya:
1. Pendekatan Behavioristik yaitu memposisikan manusia sebagai makhluk yang fasif dapat dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan. Dan Guru yang aktif dapat membentuk dan mengarahkan siswa sesuai dengan target yang dikehendaki yaitu adanya sebuah rencana program kerja pengajaran yang jelas dan kontinyu.
2. Pendekatan Kongnitif bahwa manusia sebagai makhluk yang aktif dalam pengembangan diri dan memiiki kemampuan berfikir utuk menghadapi masalah dalam proses belajar mengajar. Guru bisa memberikan kemudahan bagi siswa untuk memgembangkan diri dalam proses belajar mengajar.
Pendekatan Humanistik yaitu manusia sebagai makhluk sosial dapat menyesuaikan diri dan dapat menemukan potensi dirinya dalam proses kebersamaan dalam kelompok. Guru bisa mengembangkan proses kelompok dalam pembelajaran yang memungkinkan proses terjadinya intraksi siswa denga sesamanya dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya pada ayat ke 5 itu juga disebutkan kata “Insan“ yang berarti manusia menggambrakan bahwa dalam proses belajar mengajar adanya murid/ peserta didik yang dapat diberikan pelajaran.
Penggunaan kata ”insan“ dalam ayat tersebut sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Musa Al ‘Asy’ari yang mengatakan bahwa kata “Insan“/ manusia yang memiliki potensi spiritual dan emosional juag memiliki potensi intelektual seperti berfikir, merenung, memahami, menyimpan, mmeperoduksi kembali.
Kata insan juga mengacu pada manusia yang memiliki hati nurani, instuisi, bakat, minat, motivasi, dan sebagainya. Dengan demikian sebagai insan ia akan tampil sebagai makhluk yang dapat didik dan juga menjadi pendidik. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar