Kamis, 27 September 2012

Taman Kanak-Kannak (TK) Nahdlatul Wathan Jakarta

a. Sejarah Singkat Berdirinya
Pendidikan Islam memiliki kaitan yang sangat erat dengan Pondok Pesantren. Karena itu bila membicarakan Pondok Pesantren, berarti membicarakan suatu tempat yang sangat tepat  untuk menyiarkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam. Oleh karena TK Nahdlatul Wathan ini berada dalam naungan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarja, maka TK tersebut bernuansa Islami.
Keberadaan TK ini diawali dari perbincangan para pengurus Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta pada saat itu, sehingga tercetuslah inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan kanak-kanak yang bernuansa Islami. Masukan tersebut disambut gembira oleh masyarakat sekitar sehingga masyarakat memberi  dukungan dengan keberadaannya karena pada saat itu masyarakat juga membutuhkan sarana pendidikan untuk anak-anak mereka sebelum masuk di Sekolah Dasar.

Senin, 02 Juli 2012

Kenyataan Nahdlatul Wathan Jakarta


Sarana dan prasarana pendidikan disebut educational facilities. Sebutan itu jika diadopsi ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi fasilitas pendidikan. Fasilitas pendidikan artinya segala sesuatu (alat dan barang) yang memfasilitasi (memberikan kemudahan) dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan. Secara umum sarana pendidikan adalah  segala macam alat yang digunakan secara langsung dalam proses pendidikan. Sementara prasarana pendidikan adalah segala macam alat yang tidak secara langsung digunakan dalam proses pendidikan.
Mengenai sarana dan prasarana pendidikan Nahdlatul Wathan di Jakarta, tidak luput dari campur tangan TGKH Muhhammad Zainuddin Abdul Majid, khususnya dalam pembelian dan pembebasan tahah. Karena tanah adalah salah satu sarana terpenting dalam pembangunan. Tanpa adanya tanah, atau lebih khusus tanah milik sendiri yang tidak membebani di masa yang akan datang dalam menunjang perkembangan proses pendirian dan pengadaan lembaga-lembaga pendidikan yang bernaung di bawah bendera Nahdlatul Wathan.

Jumat, 30 Maret 2012

NW Jakarta Terus Membangun


Dari awal berdirinya, sekitar tahun  80-an NW Jakarta terus menancapkan tajinya di Ibu Kota. Yang tadinya berawal dari situasi yang tidak diinginginkan menjadi sesuatu yang berharga dan dapat di perhitungkan, dengan kondisi yang memprihatinkan sampai pada nilai-nilai yang membanggakan. Tahapan demi tahapan yang terus di lakukan dan di kembangkan oleh NW Jakarat berangsur angsur makin pesat, terbukti dari awalnya lokasi tersebut yang berupa hutan belantara, masih banyak terdapat pohon-pohon bambu dan pohon-pohon pisang, namun saat ini di tempat yang sama telah menjulang gedung-gedung yang tinggi milik NW Jakarta.

MAKNA FILOSOFIS NAHDLTUL WATHAN

Fahrurrozi

            Catatan Maulana Syaikh Muhammad Hasan al-Massyath tentang penamaan organisasi yang diusulkan oleh TGH.Muhammad Zainuddin AM dengan nama, Nahdlat al-Din al-Islam li al-Wathan atau Nahdlat al-Islam li al-Wathan.dapat dijadikan pijakan bahwa relasi antara agama dan negara dalam konteks ini bersifat integral dan simbiosis mutualisme. Artinya, negara sebagai sebuah institusi memerlukan agama sebagai basis moral untuk menegakkan berdirinya suatu institusi negara. Sementara agama tidak akan berfungsi maksimal tanpa ada dukungan dari negara. Jadi agama mengisi preferensi nilai-nilai normatif dari sebuah negara.

Senin, 05 Maret 2012

TEKS IKRAR / BAI’AT

 بسم الله الرّحمن الرّحيم


اَشْهَدُاَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّالله وَاَشْهَدُاَنَّ مُحَمَّدًارَّسُوْلُ الله

Dengan segala keinsyafan, kesadaran dan penuh rasa tanggung jawab, pada hari ini, Sabtu 19 Juni 2010 M bertepatan dengan tanggal 7 Rajab 1431 H. Kami siswa–siswi MD, SD, SMP dan SMA Nahdlatul Wathan Jakarta, menyatakan Ikrar dan Bai’at sebagai berikut :
1.  Saya berjanji akan tetap bertaqwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta memegang erat pokoknya NW, pokok NW Iman dan taqwa;
2.   Saya berjanji akan tetap berbakti kepada dua Ibu Bapak dan guru
3.  Saya berjanji akan tetap berppegang teguh dan mengamalkan ajaran Islam Ahlusunnah wal Jama’ah ala Mazhabil Imamisy Syafi’i melalui Nahdlatul Wathan dimana saja berada;
4.  Saya berjanji akan tetap mengembangkan Organisasi Nahdlatul Wathan melalui pendidikan, sosial, dan dakwah sesuai dengan situasi dan kondisi Negara Republik Indonesia yang berfalsafat Pancasila dan Undang–Undang Dasar 1945;
5.   Saya berjanji akan memesankan anak, cucu, dan keluarga saya untuk terus mewarisi Nahdlatul Wathan dimana saja berada.
6.   Saya berjanji akan menjalankan tugas yang diamanatkan pada saya sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan.

Demikian ikrar dan bai’at saya, semoga Allah mengabulkannya.

وَالله ُالْمُوَفِقُ وَالْهَادِي ِالَى سَبِيْلِ الرَّشَاد
بَايَعْنَاكُمْ, عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَعَلَى مَافِى هَذَهِ الصَّحِيْفَةِ, صَحِيْفَةِ الْبَيْعَةِ وَاْلاِقْرَارِ.
أيَّدَكُمُ الله ُ,عَلَى تَنْفِيْذِ بَيْعَتِكُمْ عَلَى اَحْسَنِ مَا يُرَامُ. وَاللهُ خَيْرُالشَّاهِدِيْنَ

Diucapkan di depan pengurus Yayasan Mi’rajush Shibyan, Orang Tua/ Wali Murid, Para Guru, dan Para Temu Undangan lainnya. Pada acara Tasyakkuran dan Pelepasan Siswa–siswi Nahdlatul Wathan Jakarta,  Tanggal 19 Juni 2010 / 7 Rajab 1431.

Jakarta:  7 Rajab 1431 H
                 19 Juni 2010 M

              Yang Dibai’at                                                            Yang  Membai’at

 

         (. . . . . . . . . . . . . .. .)                                                          ( H. M. Suhaidi )

Jumat, 24 Februari 2012

PONPES NW JAKARTA SUKSES MENUYUSUN KURIKULUM KE-NW-AN

Muhammad Noor, MA
(Ketua Tim Penyusun Kurikulum Ke-NW-an,
Hakim Pengadilan Agama Painan, Sumatera Barat)

            Keberhasilan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta mengkontribusikan buku Visi Kebangsaan Religius ke hadapan warga Nahdliyyin telah bermetamorfosa dengan mempersembahkan kembali Kurikulum Ke-NW-an dan beberapa bentuk karya tulis lainnya yang telah lama diidam-idamkan oleh warga Nahdliyyin (NW).
Sebagai salah satu hal yang telah mendorong penulis dan Tim dalam menyusun Kurikulum Ke-NW-an adalah ketika penulis menemukan salah satu bab dari buku Visi Kebangsaan Religius yang diketik ulang oleh seseorang dan diperbanyak untuk kepentingan belajar mengajar Ke-NW-an di sebuah madrasah. Meski terkesan sebuah pelanggaran hak cipta, tapi langkah itu tidak dipersoalkan oleh tim penulis selaku pemegang hak cipta atas alasan keinginan menjadikannya sebagai buku ajar. Di samping itu memang belum ada niatan dari pihak manapun untuk menerbitkannya kembali dalam rangka mempermudah akses masyarakat terhadap buku tersebut.

“ IQRA” DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN PENDIDIKAN

Badri HS, M.Pd
(Kepala SMP Nahdlatul Wathan Jakarta)

Kata “Iqra’“ adalah  kata  perintah  berarti “baca”  yang berasal  dari kata  kerja  qora’a - yaqra’u.  Perintah  membaca  yang  diulang  sampai  dua kali dalam surat al alaq itu tidak disebutkan obyek yang harus dibaca, ini mengandung  arti  bahwa yang dibaca tersebut  sangat luas  disamping membaca  ayat-ayat Allah  yang terdapat dalam  al-Qur’an  juga terdapat dalam  jagat  raya, perilaku sosial dan segenap problematikanya seperti  membaca fikiran dan perasaan orang lain, membaca hal-hal yang tersurat  dan yang  tersirat. Sesuai dengan firman-Nya:
"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah". (QS Shaad 38 : 37)

Sabtu, 04 Februari 2012

BULAN BINTANG BERSINAR LIMA

“ Makna Simbolik Dalam Perspektif Kesejarahan “

KH. Muhammad Suhaidi
(Pimpinan  Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta)

 
Falsafah Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah :Bulan melambangkan Islam, Bintang melambangkan Iman dan Taqwa, Sinar Lima melambangbkan Rukun Islam, Warna gambang dan tulisan putih melambangkan  Ikhlas dan Istiqomah, Warna dasar hijau melambangkan Selamat Bahagia Dunia Akhirat.
 
Secara normatif, simbol seringkali diartikan sebatas penghias  seperti bendera atau vigura dalam sebuah organisasi.  Nyaris  tidak gali filosofi dan makna kesejarahan dibalik simbol tersebut. Padahal betapa sebuah simbol akan sangat bermakna ketika kita mau melihat sekilas sejarah bagaimana simbol itu dibuat. Dengan demikian, sangatlah tepat dan cerdas bila simbol Bulan Bintang Bersinar Lima dipahami sebagai sebuah nilai kesejarahan yang berkaitan dengan  agama dan negara bahkan lebih dari hal tersebut sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.

NAHDLATUL WATHAN GABUS DAN KIPRAHNYA

Organisai Nahdlatul Wathan (NW) yang didirikan oleh Maulana Syaikh TGKH Muhammad Zainuddin  Abdul Madjid tahun 1934, secara terus menerus melakukan perannya di tengah masyarakat, baik bidang Pendidikan, Sosial dan Dakwah Islamiyah. Kemajuan NW terus menggeliat baik di kampung terpencil yang ada di pedalaman desa-desa hingga ke perkotaan di Ibu kota. Tak ayal lagi, saat ini Nahdlatul Wathan (NW) telah memiliki ribuan cabang Sekolah, Madrasah dan Pondok Pesantren. Ini tanda dan pertanda bahwa Nahdlatul Wathan semakin dicintai dan diminati masyarakat termasuk masyarakat Ibu Kota Jakarta dan Bekasi. Salah satu nya adalah NW di Bekasi sebagaimana dijelaskan berikut ini.

NAHDLATUL WATHAN DAN CITA-CITA PENDIRINYA

TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid

KH. Muhammad Suhaidi
(Pimpinan  Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta)
-------------------------------------------------------------
 
Ketika kita mengevaluasi kembali kelahiran Islam, sesungguhnya Islam itu konsisten berada di depan zamannya. Pada awal kedatangannya, kita melihat dengan jelas, bahwa Islam bukanlah suatu agama yang marjinal  dan atau agama yang lahir dalam geo-pedesaan, tetapi agama perkotaan. Ketika Islam tumbuh di Makkah dan berkembang di Madinah, kemudian Islam ini  menginspirasi, mengubah (merezuvenasi ) dan merevolusi peradaban manusia. Tak aneh bila kemudian bila “ masyarakat madani” sebagai tipe ideal masyarakat modern dinisbatkan kepada masyakat madinah serta  kemajuan iptek di Bagdad adalah contoh bagaimana Islam menjadi inspirasi perubahan dan sains modern.

MDI Nahdlatul Wathan Jakarta Semakin Mempesona Warga Ibu Kota

      Madrasah Diniah Islamiyah (MDI) Nahdlatul Wathan Jakarta pimpinan Ahmad Madani, S.Ag di lingkungan MDI Kecamatan Cakung menunjukkan perkembangan pesat. Kemajuan ini tidak luput dari peran dari pemangku kepentingan, terutama guru dan pimpinannya. Dengan pendekatan baru, sekolah ini mampu mengajarkan Al-Quran kepada siswanya dalam waktu relative singkat bisa membaca Al-Quran dengan Tajwid. Inilah daya pikat sekolah MDI NW tersebut. Jangan membandingkannya, dengan pesantren anak yang memang secara khusus diperuntukkan sebagai sekolah tahfidz ( hafal Qur’an) juga jangan membandingkan dengan pengajaran Al-Quran kepada kelompok dewasa. Para peserta didik di MDI NW Jakarta memulai pembelajarannya sejak usia 4 tahun, dan waktu pembelajaran di sekolah ini pun hanya dilaksanakan setiap sore jam 15.30- 17.30. Artinya masa pendidikannya relative sangat singkat dan menyasar siswa usia dini.  Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan ajaran agama Islam yang mendalam, diharapkan akan tertanam dan menjadi karakter khusus yang membentuk jati dirinya kelak, agar terhindar dari informasi yang tidak sesuai. Melihat zaman sekarang ini yang terus berkembang dan syarat dengan berbagai informasi yang kurang mendidik serta dapat mempengaruhi karakter dan pola dalam berfikir seseorang, sehingga hal tersebut di antisipasi sejak dini.